Penulis, RISNALDI.S.SI, KETUA HIMMI, Kepulauan Meranti- Jika pemahaman adalah fondasi, keikhlasan adalah ruh, amal adalah bukti, jihad adalah arah, pengorbanan adalah harga, ketaatan adalah sistem, keteguhan adalah daya tahan, dan totalitas adalah komitmen penuh maka persaudaraan (ukhuwwah) adalah jantung yang menghidupkan seluruhnya.
Tanpa persaudaraan, semua nilai itu akan berjalan sendiri-sendiri dan mudah runtuh.
Islam tidak membangun umat sebagai kumpulan individu yang saling bersaing, tetapi sebagai satu tubuh yang saling menguatkan. Karena itu, persaudaraan bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan strategis umat.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi ketetapan ilahi tentang identitas umat Islam.
Makna Persaudaraan: Lebih dari Sekadar Kebersamaan
Persaudaraan dalam Islam bukan sekadar merasa dekat, tetapi:
– saling menjaga kehormatan
– saling menolong dalam kesulitan
– saling menguatkan dalam perjuangan
– saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran
Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Persaudaraan berarti tidak menjadi bagian dari masalah, tetapi menjadi bagian dari solusi.
Membangun Persaudaraan sebagai Strategi Peradaban yang dicontohkan Rasulullah SAW
Langkah besar Rasulullah SAW setelah hijrah ke Madinah bukan membangun benteng atau mengumpulkan senjata, tetapi mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar.
Ini adalah keputusan strategis: menghapus kecemburuan sosial, menyatukan visi, dan membangun kekuatan kolektif.
Persaudaraan itulah yang menjadi fondasi:
– stabilitas sosial
– kekuatan ekonomi
– ketahanan politik
– kemenangan umat
Tanpa persaudaraan, Madinah tidak akan pernah menjadi pusat peradaban Islam.
Persaudaraan Para Sahabat: Beda Karakter, Satu Tujuan
Para sahabat berbeda latar belakang, usia, dan karakter. Ada yang keras, ada yang lembut. Ada yang kaya, ada yang miskin. Namun mereka disatukan oleh tujuan besar: ridha Allah dan kemuliaan Islam.
Perbedaan tidak mereka jadikan alasan berpisah, tetapi ruang saling melengkapi. Ketika berbeda pendapat, mereka tetap menjaga adab dan ukhuwah.
Inilah persaudaraan yang matang tidak rapuh oleh perbedaan.
Krisis Persaudaraan Umat Hari Ini
Salah satu krisis terbesar umat hari ini adalah rapuhnya persaudaraan. Umat mudah bersatu dalam emosi, tetapi cepat pecah dalam perbedaan.
Media sosial memperparah keadaan: sedikit perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan terbuka.
Allah SWT telah mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain…”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Tanpa persaudaraan, umat akan terus lemah, mudah diadu domba, dan kehilangan daya tawar di hadapan dunia.
Palestina: Ujian Kejujuran Persaudaraan Global
Palestina adalah ujian paling nyata bagi persaudaraan umat Islam global. Mereka tidak meminta kesamaan mazhab atau aliran, tetapi meminta solidaritas kemanusiaan dan iman.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.”
(HR. Thabrani)
Persaudaraan menuntut lebih dari simpati sesaat. Ia menuntut:
– konsistensi kepedulian
– keberpihakan pada keadilan
– pengorbanan bersama
Jika umat Islam bisa bersatu untuk Palestina, maka umat Islam bisa bersatu untuk masa depannya sendiri.
Merawat Persaudaraan di Tengah Perbedaan
Persaudaraan tidak berarti menyeragamkan semua pendapat. Islam mengakui perbedaan, tetapi mengajarkan adab dalam perbedaan.
Beberapa prinsip merawat ukhuwah:
1. Dahulukan persamaan, kelola perbedaan
2. Jaga lisan dan tulisan terutama di ruang publik
3. Hentikan takfir, caci, dan saling menjatuhkan
4. Satukan barisan pada isu besar umat
Allah SWT berfirman:
“Berpeganglah kamu semua kepada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Persaudaraan sebagai Kekuatan Masa Depan
Tidak ada ekonomi umat yang kuat tanpa kepercayaan.
Tidak ada politik umat yang bermartabat tanpa persatuan.
Tidak ada kebangkitan tanpa persaudaraan.
Persaudaraan melahirkan:
1. saling percaya
2. kerja kolektif
3. kekuatan berlipat
Inilah yang membuat umat Islam dahulu disegani, dan inilah yang harus dihidupkan kembali.
Pesan untuk Generasi Muda
Generasi muda hidup di tengah polarisasi. Persaudaraan generasi ini adalah:
– tidak mudah membenci
– tidak cepat menghakimi
– berani merangkul meski berbeda
– fokus pada tujuan besar, bukan konflik kecil
Umat tidak membutuhkan generasi yang pandai berdebat, tetapi generasi yang mampu menyatukan.
Dapat disimpulkan, persaudaraan adalah nafas perjuangan umat. Tanpanya, iman menjadi ego, amal menjadi kompetisi, dan jihad kehilangan arah.
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa Rasulullah SAW kembali dari langit bukan untuk membangun kelompok eksklusif, tetapi umat yang bersatu, beradab, dan saling menguatkan.
Jika umat ingin bangkit, maka persaudaraan bukan pilihan tpi ia adalah keharusan.
Redaksi : B’76

















